<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Rifat Najmi</title>
	<atom:link href="http://rifat.najmi.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rifat.najmi.org</link>
	<description>a Visual Artist</description>
	<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 14:35:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ruparupanya Universitas Pelacurmadina</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/ruparupanya-universitas-pelacurmadina/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/ruparupanya-universitas-pelacurmadina/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 12:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[Desain]]></category>

		<category><![CDATA[DKV]]></category>

		<category><![CDATA[DPI]]></category>

		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>

		<category><![CDATA[Organisasi]]></category>

		<category><![CDATA[Paramadina]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[rupakapala]]></category>

		<category><![CDATA[Universitas]]></category>

		<category><![CDATA[UPM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rifat.najmi.org/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh merupakan sebuah kesenangan tiada tara bagi saya ketika menghabiskan setahun-duatahun pertama di kampus dan organisasi kemahasiswaan ini. Di kampus, ada beberapa dosen yang benar-benar menggugah pemikiran saya. Seperti halnya Farah Wardhani yang bersikap bahwa kreatifitas tidak hanya berdasarkan dari buku saja; atau bahkan Merwan Yusuf yang, walaupun umurnya jauuuuhhh di atas keseluruhan mahasiswa bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh merupakan sebuah kesenangan tiada tara bagi saya ketika menghabiskan setahun-duatahun pertama di kampus dan organisasi kemahasiswaan ini. Di kampus, ada beberapa dosen yang benar-benar menggugah pemikiran saya. Seperti halnya Farah Wardhani yang bersikap bahwa kreatifitas tidak hanya berdasarkan dari buku saja; atau bahkan Merwan Yusuf yang, walaupun umurnya jauuuuhhh di atas keseluruhan mahasiswa bahkan rektor, bisa menyampaikan gagasannya secara ringan dan dapat dicerna semua kalangan; hingga M Zainuri yang termasuk dari sedikit manusia yang bisa membuat satu kelas terdiam memperhatikan semua ucapannya.<span id="more-390"></span></p>
<p>Tetapi sayangnya saya menyia-nyiakan ini semua. Saya sibuk menghabiskan waktu melayani kepuasan diri saya sendiri dan hanya sempat menikmati sedikit &#8220;berkah&#8221; yang terdapat di dalam kampus ini, sebelum akhirnya saya menemukan &#8220;berkah&#8221; yang lain.</p>
<p>Saat itu saya dipaksa teman seangkatan untuk mengikuti sebuah workshop woodcut di kampus. &#8220;Apasih woodcut? Ngapain sih ikut gini-ginian? Apa untungnya bagi gw?&#8221; Begitulah tanggapan saya ketika dipaksa <a title="Dian Apriyanti" href="http://d3ed3ed3e.multiply.com/" target="_blank" class="dotted">Dian Apriyanti</a> dan <a title="Asri Dwi S" href="http://onlyachs.blogspot.com/" target="_blank" class="dotted">Asri Dwi S</a> untuk mengikuti kegiatan tersebut.  Alhamdulillah &#8220;paksaan&#8221; mereka berhasil dan menjadi awal dari kehidupan saya yang baru.</p>
<p>Melalui kegiatan ini saya diperkenalkan kembali kepada sebuah keluarga mahasiswa bernama <a href="http://rupakapala.org" title="rupakãpala" class="dotted">Ruparupanya</a>. Sebelumnya saya pernah dikenalkan (dan katanya dilantik menjadi anggota) ketika mengikuti acara Malam Diakrabin. Di dalam keluarga ini akhirnya saya mengetahui bahwa tidak ada batasan untuk melakukan apapun, tidak ada batasan umur dan tidak ada istilah senior-junior, dan hanya ada satu yang membatasinya : karya! Karya disini tidak hanya berupa karya yang sudah berwujud seperti karya seni, tetapi bisa juga diartikan sebagai tanggung jawab seseorang sebagai mahasiswa dan sebagai anggota Ruparupanya.</p>
<p>Sebagai mahasiswa saya diwajibkan untuk bisa bersikap kritis dan membawa perubahan kepada lingkungan secara khusus dan masyarakat secara umum, sedangkan sebagai anggota saya diwajibkan untuk memberikan kontribusi memajukan kualitas keilmuan mahasiswa -seperti yang tertuang dalam Anggaran Dasar Ruparupanya.</p>
<p>Awalnya, semua tanggung jawab ini merupakan suatu beban bagi saya yang terbiasa hidup senang, terlebih ketika semua dosen terbaik di atas sudah tidak lagi berada di <a href="http://paramadina.ac.id" title="Universitas Paramadina" class="dotted">Universitas Pelacurmadina</a>. Namun, melalui beberapa senior dan dosen yang saya anggap mentor, dan juga setelah mengikuti ESQ Leadership, saya mendapatkan semangat untuk melakukan ini semua. Semangat ini juga melandasi keikhlasan saya untuk memegang tanggung jawab sebagai Ketua Ruparupanya.</p>
<p>Jauh sebelum saya menjadi Ketua, saya sudah memikirkan apa saja yang bisa saya lakukan ketika saya dipilih (bedakan dengan kata &#8220;terpilih&#8221;) nanti. Saya sudah menyusun bermacam kegiatan yang sudah wajar dilakukan oleh mahasiswa desain seperti workshop dan pameran. Saya juga sempat berkonsultasi kepada beberapa orang yang tidak ada kaitannya dengan organisasi ini, untuk menghindarkan timbulnya istilah boneka di belakang jabatan saya (alias ketua boneka).</p>
<p>Semua ini lalu saya wujudkan ke dalam Susunan Kepengurusan dan Program Kerja saya. Bisa dibilang Pengurus yang saya miliki mewakili semua golongan di lingkungan mahasiswa desain. Ada golongan putih yang tidak tertarik dengan kegiatan kemahasiswaan, ada golongan kupu-kupu yang IPKnya juga seperti saya, ada golongan batu yang kerjaannya &#8220;ngebatu&#8221; alias mabok dengan alasan untuk mencari inspirasi, ada juga golongan &#8220;ayo aja&#8221; yang mau diajak berkarya, hingga golongan aktifis yang lebih memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Program Kerja yang saya miliki juga mewakili aspirasi hampir semua golongan mahasiswa. Saya merasa bahwa semua mahasiswa berkeinginan untuk berkreasi dan mengaktualisasikan dirinya sehingga saya merencanakan adanya pameran. Saya merasa bahwa tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan dalam berkreasi sehingga saya merencanakan adanya workshop dan berkeinginan untuk mensukseskan program Nirvana 1987. Saya merasa bahwa Universitas Pelacurmadina terlalu sibuk melacur sehingga saya memberikan beberapa kuesioner kepada puluhan mahasiswa desain. Saya juga merasa adanya kesulitan untuk berkomunikasi dengan anggota sehingga saya berusaha sendirian membangun situs Ruparupanya.</p>
<p>Tugas pertama saya waktu itu adalah mensukseskan program Nirvana 1987. Program yang dirancang oleh Yazid Vedian ini merupakan pengganti dari acara Malam Diakrabin yang sudah menjadi tradisi di lingkungan mahasiswa desain. Program ini mengubah seluruh elemen kegiatan dan lebih dititikberatkan kepada &#8220;meningkatkan kualitas keilmuan mahasiswa dan memperkenalkan organisasi kepada mahasiswa baru&#8221;. Pengubahan itu antara lain, tempat yang diadakan di Jakarta, dan acara yang berupa simulasi kehidupan seseorang dalam menjalankan tugas sesuai profesinya, yaitu desainer.</p>
<p>Sayangnya, program ini menuai kecaman dari berbagai pihak. Suatu saat, beberapa senior yang menyatakan diri sebagai &#8220;telinga dan mulut&#8221; alumni mengumpulkan para Panitia Nirvana 1987 serta pengurus Ruparupanya. Mereka berkata bahwa para alumni, bahkan para mantan Ketua Ruparupanya, menolak digantinya program Malam Diakrabin. &#8220;Senior butuh jalan-jalan ke luar kota,&#8221; ungkap salah satu senior. &#8220;Bukan tugas Ruparupanya untuk bikin pinter anak baru,&#8221; kata senior yang lain. Penolakan ini berujung kepada pemboikotan program oleh para Panitia dan menyebabkan Yazid untuk menyusun ulang program agar sesuai dengan konsep Malam Diakrabin. (Lucunya, ketika program berlangsung, hanya segelintir senior/alumni yang menghadiri program tersebut.)</p>
<p>Kegagalan ini tidak mematahkan semangat saya untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa desain. Saya, dengan dibantu beberapa rekan Pengurus, menyebarkan kuesioner untuk mendata perasaan mahasiswa desain terhadap kampusnya sendiri. Kuesioner ini saya bagi dalam tiga bagian, yaitu Akademis yang berbicara tentang kurikulum dan pengajaran di Program Komedi Desain, Fasilitas yang berbicara tentang kewajiban dibandingkan hak mahasiswa, dan Kemahasiswaan yang berbicara tentang mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan.</p>
<p>Dari sekitar 75 rangkap kuesioner yang disebar, hanya 52 yang berhasil dikembalikan. Dari 52 yang dikembalikan tersebut, tidak sampai 1/3 yang diisi secara lengkap. Karena hanya 1/3 yang lengkap, bisa dikatakan bahwa hasil kuesioner tidak valid dan tidak bisa diajukan kepada pihak yang lebih tinggi. Akhirnya saya hanya menyampaikan hasil kuesioner kepada BEM Universitas Pelacurmadina untuk dijadikan bahan kajian.</p>
<p>Kurangnya minat mahasiswa desain untuk mengisi kuesioner tersebut, terlebih lagi kurangnya kontribusi Pengurus untuk mensukseskan program, membuat saya merasa harus mengumpulkan para Pengurus untuk menyatukan kekuatan. Saya menyebarkan informasi melalui SMS dan melalui beberapa Pengurus yang aktif untuk mengumpulkan para Pengurus lainnya. Di hari yang telah ditentukan, ternyata hanya segelintir Pengurus yang datang dan sisanya memiliki bermacam alasan seperti harus makan siang, mau mengerjakan tugas, ada janji, dan sebagainya. Dari segelintir yang datang pun ternyata hanya secuil yang pikirannya tertuju kepada rapat ini; sisanya sibuk menyadarkan diri, sibuk mengurus motor klasiknya, ataupun sibuk bercanda dengan temannya. Saya memutuskan untuk menunda rapat dan menggantinya dengan hari lain.</p>
<p>Di hari yang lain tersebut ternyata tidak ada perubahan. Saya kembali mengganti hari rapat beberapa kali, namun tetap mengalami hal yang sama.</p>
<p>Kemandulan para Pengurus tidak membuat saya berhenti bekerja. Saya beralih ke program selanjutnya, yaitu satu paket penggalangandana-workshop-pameran. Untuk pameran, saya mengutus mahasiswa 1996 untuk menjadi panitia. Saya mengadakan dua kali rapat dengan mereka untuk menyusun kepanitiaan dan memberikan arahan mengenai konsep pameran. Setelah itu saya beralih ke penggalangan dana. Mahasiswa 1987 diberi tugas mengamen dan mahasiswa 1986 untuk membantu mengadakan garage sale. Saya juga meminta semua mahasiswa menyumbangkan pakaian untuk dijual dalam acara garage sale tersebut. Setelah beberapa baju terkumpul (itupun hanya dari mahasiswa 1987), saya  menentukan hari pertama penggalangan dana. Di hari itu, hanya satu orang Pengurus yang membantu saya, hanya empat orang mahasiswi 1986 yang berjualan kue, dan hampir seluruh mahasiswa 1987 yang mengamen; namun berhasil mendapatkan sekitar tujuh ratus ribu rupiah.</p>
<p>Saya lalu kembali sebentar ke pameran. Saya ingin mengetahui kinerja panitia dengan berbicara dengan Ketua Panitianya. Betapa kecewanya saya ketika mengetahui bahwa tidak ada kelanjutan sejak rapat terakhir dengan mereka. Saya berencana mengadakan sebuah forum untuk mengumpulkan semua mahasiswa 1984-1987 untuk menyampaikan kekecewaan saya dan juga untuk meminta restu mengubah susunan Kepengurusan.</p>
<p>Seluruh nomor mahasiswa 1985-1987 yang terdapat di phonebook saya kirimi SMS. Beberapa orang juga saya minta untuk menyebarkan informasi tentang forum ini. Dalam pikiran saya saat itu, dari puluhan nomor dan dari beberapa orang, tidak mungkin tidak ada yang tahu tentang rencana forum.</p>
<p>Akhirnya saya sampai kepada titik jenuh saya. Di waktu forum yang telah ditentukan tersebut, saya kembali mengalami hal yang sama. Hanya segelintir orang yang datang dan hanya secuil pikiran yang terfokus kepada forum ini. Saya membatalkan forum dan berpikir untuk melanjutkan hidup saya.</p>
<p>Saya memfokuskan diri kepada kuliah saya dan berhasil mencapai prestasi yang mengagumkan untuk orang seukuran saya. Saya berhasil mengubah IPK menjadi 2.27 dalam 3 semester; yang sebelumnya hanya 0.9. Tetapi prestasi ini saya dapatkan dengan sebuah pengorbanan yang sangat besar : hilangnya kreatifitas.</p>
<p>Perkuliahan pada program komedi apapun tentunya membutuhkan kreatifitas. Tidak hanya untuk kuliah, tetapi dalam kehidupan pun selalu dipenuhi dengan kreasi. Inilah satu di antara tiga hal yang menurut saya membedakan manusia dengan hewan (akal-kreatifitas-nafsu).</p>
<p>Pada <a title="10 Tahun Universitas Paramadina" href="http://rifat.najmi.org/blog/10-tahun-universitas-paramadina" target="_blank" class="dotted">tulisan saya yang dulu</a>, saya menyampaikan mengenai adanya pengkotak-kotakan kreatifitas di dalam kurikulum kampus ini. Secara gampangnya, saya mengibaratkan diri saya ingin pergi ke Bintaro Super Plaza III dan saya memiliki banyak alternatif untuk menuju ke sana.</p>
<p>Saya bisa memilih naik taksi. Saya juga bisa menaiki bis Kepala S613 ataupun angkot KTK S08. Selain itu, saya juga bisa berjalan kaki selama 45 menit, ataupun mengayuh sepeda saya selama 20 menit. Dengan menggunakan bis misalnya, saya bisa mendapatkan nilai tambah dibandingkan penyejuk udara yang terdapat di dalam mobil orangtua saya. Sebagai contoh, saya bisa mengamati perilaku dan tata aturan (norma etika blablabla kaga ngerti dah gua istilahnya!) yang berlaku di dalam masyarakat. Saya juga bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan saya. Dan, lebih pentingnya lagi, saya ikut serta dalam menyelamatkan lingkungan.</p>
<p>Tetapi, Universitas Pelacurmadina selalu mengandalkan cara tergampang (dan termanja!) : mengendarai mobil pribadi. Apabila saya dihadapkan kepada urusan komposisi, saya pasti diharuskan membuat poster. Konyolnya, dalam satu semester saya bisa membuat tiga poster berbeda untuk tiga mata kuliah yang berbeda pula. Dan lebih konyolnya lagi, tidak semua orangtua mahasiswa mampu meminjamkan bahkan membelikan mobil untuk anaknya. Dengan kata lain, tidak semua mahasiswa bisa menyusun komposisi yang baik apabila selalu dibatasi kepada poster saja.</p>
<p>Teman saya pernah menceritakan tentang tugas kuliah yang ada di kampusnya. Dia diharuskan membuat boneka kertas untuk matakuliah Komputer Grafis. Dengan hanya membuat satu boneka kertas, saya (yakin) bisa belajar banyak hal yang terdapat di dalam unsur rupa dan unsur desain. Garis, bidang, warna, hingga komposisi, konstruksi, dan sebagainya, bisa didapatkan hanya dalam satu tugas saja! Bandingkan dengan kampus saya yang memberikn banyak tugas hanya untuk mempelajari sedikit unsur. Selain itu, saya juga tidak dibiarkan bersikap liar dalam mengerjakan tugas. Contohnya, dari awal sudah ditentukan batasan-batasan yang tidak boleh dilakukan seperti tidak boleh menggunakan huruf, tidak boleh menggunakan simbol bendera, dan lain-lain.</p>
<p>Di luar masalah kreatifitas, saya mengalami beberapa hal yang membuat saya yakin dan berani untuk menggunakan istilah pelacur pada tulisan saya ini.</p>
<p>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi pertama tahun 1988 &lt;&lt; ini tahunnya beneran loh!), <em>lacur </em>adalah &#8220;kelakuan tidak baik (tt perempuan)&#8221;; <em>pelacur </em>adalah &#8220;perempuan yg melacur&#8221;; sedangkan <em>pelacuran ilmiah</em> adalah &#8220;penyelewengan yg terdapat pd dunia pendidikan&#8221;. Ya, ada banyak sekali penyelewengan yang terjadi di dalam kampus ini.</p>
<p>Yang pertama adalah tiada transparansi keuangan dibandingkan dengan matakuliah Anti Korupsi yang digembar-gemborkan oleh pihak kampus. Dalam salah satu kuliah umum matakuliah Anti Korupsi, Ketua KPK menyatakan bahwa salah satu faktor penyebab korupsi adalah sistem (yang buruk). Menurut saya, salah satu sistem yang buruk adalah, ya itu tadi.</p>
<p>Yang kedua adalah masalah fasilitas dibandingkan biaya yang telah diinvestasikan oleh orangtua mahasiswa untuk anaknya sendiri. Gampangnya, saya yakin tidak ada orangtua yang setuju apabila uangnya digunakan, misalnya, untuk menyewa gedung baru tetapi anaknya tidak akan pernah sempat menikmati gedung tersebut.</p>
<p>Yang ketiga adalah pembohongan publik dibandingkan visi-misi-tujuan Universitas Pelacurmadina. Saya pernah melihat iklan kampus ini di salah satu harian nasional (sekitar tahun 2007 &lt;&lt; lagi-lagi tahunnya beneran). Di dalam iklan tersebut, kampus menyatakan bahwa mahasiswa akan diajar oleh 70% dosen lulusan S2 dan 30% lulusan S3. Lalu, kemana dosen sekaligus mentor saya yang hanya S1 dan sudah selama empat tahun ini mengajar saya? Walaupun, misalnya, ia hanya nol koma sekian persen, pihak kampus wajib menjunjung tinggi nilai kejujuran sebagaimana peserta didik yang dilarang melakukan tindakan plagiarisme.</p>
<p>Yang keempat, tetapi bukan akhir namun terakhir yang akan saya tulis disini, yaitu keabsahan Program Komedi Desain yang menjadi tempat saya berkuliah ini. Saya adalah orang yang suka menjelajahi situs pencarian. Suatu hari saya mengetik kata kunci Universitas Pelacurmadina dan saya sampai ke <a href="http://www.evaluasi.or.id/profile-univ-detail.php?specProf=0&#038;schoolID=031041&#038;schoolName=UNIVERSITAS+PARAMADINA" title="Profil Universitas Paramadina" class="dotted">halaman</a> di salah satu <a href="http://evaluasi.or.id" title="EPBSED-DIKTI" class="dotted">situs resmi pemerintah yang mengurus pendidikan tinggi</a>. Di dalam situs tersebut saya menemukan fakta bahwa ternyata Universitas Pelacurmadina memiliki Program Komedi Desain Kejiwaan Visioner (DKV) dan Desain Pelawak Internasional (DPI), bukan Desain seperti yang saya ketahui selama ini.</p>
<p>Sebagai masyarakat awam yang terlahir dari mantan anggota legislatif dan dosen, saya berpikir bahwa apapun yang dibuat pemerintah pasti memiliki kekuatan hukum. Kekuatan hukum itu pula yang memberikan kesetaraan terhadap lembaran ijazah yang dikeluarkan pihak Universitas Pelacurmadina dengan universitas lainnya, yang tentunya memiliki persyaratan yang harus dipenuhi. Dari pelajaran ilmu sosial yang saya dapatkan sewaktu sekolah dulu, sebuah negara bisa dikatakan negara apabila memiliki rakyat, tanah, dan pemerintah. Hal ini tentunya berlaku pula terhadap jenis organisasi lain.</p>
<p>Saya merasa bingung karena sekarang ini terdapat tiga <em>negara </em>yang tidak lengkap. Ada <em>negara </em>Desain yang hanya memiliki pemerintah (pejabat program studi), DKV yang hanya memiliki rakyat (mahasiswa), dan DPI yang memiliki rakyat dan tanah (fasilitas). Selain itu, <em>pejabat negara</em> Desain didominasi oleh salah satu <em>negara</em>, yang tentunya akan merugikan <em>negara </em>lainnya. Tanpa ada dominasi salah satu <em>negara </em>pun tentunya dapat menyebabkan kekacauan dalam penyelenggaraan masing-masing <em>negara</em>.</p>
<p>Belum lepas kebingungan akan status <em>kewarganegaraan </em>yang saya miliki, <a title="Armadan K Somaaji" href="http://ajiiiek.blogspot.com/" target="_blank" class="dotted">seorang mahasiswa 1987</a> menghampiri saya. Semua perbincangan dengannya seperti memberikan kembali semangat yang pernah saya miliki. Saya juga bertemu dengan <a title="Tiavita Herdiana" href="http://practicalpatterns.blogspot.com" target="_blank" class="dotted">seorang mahasiswi 1987</a> yang di kemudian hari menjadi pasangan hidup saya. Tak lama kemudian, <a title="Work Art Play Art" href="http://workartplayart.blogspot.com" target="_blank" class="dotted">serombongan mahasiswa 1987</a> ikut bergabung ke dalam forum kecil-kecilan yang sering kami adakan. Dengan banyaknya dukungan ini, akhirnya saya mencoba untuk kembali mengurus Ruparupanya.</p>
<p>Sebulan, dua bulan, tiga bulan berlalu. Dukungan yang diberikan ini tampaknya menuai kontroversi dari berbagai angkatan di atas angkatan 1987. Kontroversi ini kemudian berakibat kepada turunnya saya sebagai Ketua secara tidak terhormat. Dan sampai saat ini, sudah ada 3 pihak yang meminta pertanggungjawaban saya selama menjadi Ketua dulu. Dalam hati saya bertanya, &#8220;apa yang harus saya pertanggungjawabkan?&#8221; Yang lebih konyolnya lagi, para Pengurus dan Anggota Ruparupanya tidak juga menunjukkan perubahan dan tidak juga memiliki kesadaran akan tanggung jawab mereka terhadap organisasinya sendiri.</p>
<p>Dari salah satu <a title="10 Tahun Universitas Paramadina" href="http://rifat.najmi.org/blog/10-tahun-universitas-paramadina" target="_blank" class="dotted">tulisan</a> yang saya buat, seorang dosen bernama Darvi Rizkafirwan menghampiri saya. Saya menceritakan hampir semua pengalaman saya ini. Beliau menunjukkan sebuah kesungguhan hati untuk membantu mengurus permasalahan yang ada di lingkungan Universitas Pelacurmadina dan Ruparupanya. Kemudian, seorang dosen bernama Khalid Zabidi berkata kepada teman saya bahwa beliau ingin membagikan semua ilmu yang ia miliki ke dalam bentuk forum/kelas/workshop kecil bagi para mahasiswa yang tertarik mengikutinya. Saya merasa terkesan atas tindakan mulia mereka berdua.</p>
<p>Tetapi sayangnya, saat ini semangat yang saya miliki hanyalah semangat untuk cepat meninggalkan kampus ini. Apabila ada teman yang mengadukan betapa brengseknya mahasiswa Desain/DKV/DPI, atapun betapa lacurnya Universitas Pelacurmadina, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa dalam hati, &#8220;Hm&#8230; Ruparupanya Universitas Pelacurmadina&#8230;&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/ruparupanya-universitas-pelacurmadina/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Protected: Story of the “not the only child”</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/story-of-the-not-the-only-child/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/story-of-the-not-the-only-child/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 18:50:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<category><![CDATA[Childhood]]></category>

		<category><![CDATA[Memory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rifat.najmi.org/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form action="http://rifat.najmi.org/wp-pass.php" method="post">
<p>This post is password protected. To view it please enter your password below:</p>
<p><label for="pwbox-302">Password:<br />
<input name="post_password" id="pwbox-302" type="password" size="20" /></label><br />
<input type="submit" name="Submit" value="Submit" /></p></form>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/story-of-the-not-the-only-child/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;m just an alien</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/im-just-an-alien/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/im-just-an-alien/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 14:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[alien]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rifat.najmi.org/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[



]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img src="http://rifat.najmi.org/wp-content/uploads/2008/09/1.jpg" alt="" width="500" height="268" /></p>
<p><span id="more-296"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://rifat.najmi.org/wp-content/uploads/2008/09/2.jpg" alt="" width="500" height="537" /></p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://rifat.najmi.org/wp-content/uploads/2008/09/3.jpg" alt="" width="500" height="407" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/im-just-an-alien/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Makin aneh aje</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/makin-aneh-aje/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/makin-aneh-aje/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 19:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[Buka Puasa]]></category>

		<category><![CDATA[Desain]]></category>

		<category><![CDATA[HIMA]]></category>

		<category><![CDATA[Paramadina]]></category>

		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<category><![CDATA[rupakapala]]></category>

		<category><![CDATA[UPM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rifat.najmi.org/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tahun ajaran baru, anak baru di jurusan desain punya 'tugas' untuk ngadain acara buka puasa bareng. Di acara DESAIN BUBAR ini, anak baru diharapkan mengundang seluruh senior dan alumni desain, yah itung-itung silaturahmi lah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi chat sama dee (desain 2004), eh malah dapet kabar ga enak.</p>
<p>Jadi beginilah ceritanya.</p>
<p>Setiap tahun ajaran baru, anak baru di jurusan desain punya &#8216;tugas&#8217; untuk ngadain acara buka puasa bareng. Di acara DESAIN BUBAR ini, anak baru diharapkan mengundang seluruh senior dan alumni desain, yah itung-itung silaturahmi lah.</p>
<p>Namanya juga anak baru, ya acaranya kadang-kadang ga sukses. Ntah kurang sosialisasi lah ato garing lah, tapi buat senior dan alumni, hal ini ga pernah jadi masalah. Yang diharapkan dari acara ini justru lebih ke kebersamaan yang dibangun dari acara kecil bernama buka puasa itu. Dari acara ini senior jadi bisa kenal muka sama junior, junior juga bisa kenal muka sama senior. Urusan akrab ato ngga itu kan belakangan.<span id="more-290"></span></p>
<p>Yang jadi masalahnya sekarang, Dee cerita kalo kampus kayak ga ngebolehin ada buka puasa karena ga setuju kalo anak baru &#8216;dipaksa&#8217; untuk ngundang senior, dengan alasan : senior desain parmad ga bener, senioritas di desain parmad udah kentel bgt, peminat desain parmad menurun tiap tahunnya, dll.</p>
<p>Jujur, menurut gw alesan ini terlalu dibuat2. Lah kalo senior desain beneran brengsek, emangnya pas buka puasa anak barunya bakal digebukin? Padahal, ya namanya juga bulan puasa, bulan ibadah, justru harus ngebanyak-banyakin silaturahmi! Dan dengan acara kecil kaya buka puasa gini, justru membuka kesempatan bagi anak baru untuk menambah wawasan dan jaringan mereka, dan juga sebagai langkah awal agar mereka diterima di lingkungan mahasiswa desain &#8212; seburuk apapun lingkungannya, mereka tetap bagian darinya.</p>
<p>Anehnya lagi, Dee juga cerita kalo kampus ngomongnya aneh-aneh soal HIMA. Ngedenger omongan doi justru ngebuat gw jadi males ngurusin HIMA. Dee cerita kalo HIMA dibilang suka menting2in yang ga penting, dan ga pernah mentingin yang penting. Trus Dee cerita kalo kampus bilang gw ga bertanggungjawab sebagai Ketua HIMA.</p>
<p>Jadi waktu itu ada pameran desain produk di entah dimana tau. Terus anak2 DPI pada sibuk ngerjain pameran tersebut. Kampus nelepon dan nyuruh gw dan anak2 HIMA untuk dateng. Gw waktu itu ga bisa dateng karena, selain males (jauh cuy!), juga karena ada kerjaan. Ehhh tau2nya kampus ngecap gw ga bertanggungjawab. Mereka bilang gw ga mau bantuin anak2 DP ngurusin pameran lah, apa lah. Emang pameran tersebut urusan HIMA? Ya ngga lah. Anak2 DP di situ kan statusnya sebagai mahasiswa, bukan anggota HIMA, jadi ga ada kewajiban HIMA untuk ngebantuin. Udah gitu pameran tersebut kan urusan kampus dan HIMA ga punya urusan apa2 (karena emang bukan Progam Kerjanya). Ya emang sih ada kewajiban moral untuk ngebantu anggota HIMA, tapi jujur gw sendiri udah cape dimanfaatin terus dalam hal &#8220;kewajiban moral&#8221;.</p>
<p>Selain itu, ada hak apa kampus ngecap gw sbg Ketua ga bertanggungjawab? Tau apa mereka dengan apa yang gw kerjain sebagai Ketua selama dua semester reguler kemaren? Emang kepengurusan gw ini ga punya program kerja yang jalan (karena pengurus dan anggotanya juga pada brengsek sih), tapi gw punya program gw sendiri yang berhasil gw jalanin : <strong>ngebangun mental dan ngerubah budaya</strong>! Gw (hampir) berhasil nanemin semangat rupakapala yang dulu di dalam lingkungan anak2 2007, dan gw sedang berusaha untuk nanemin hal yang sama di 2008!</p>
<p>Kesimpulan dari hal ini : kampus harus mengutus satu orang dosen untuk <strong>berteman</strong> dan bisa jadi teman dengan mahasiswa desain!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/makin-aneh-aje/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Profesional yang Tidak Profesional</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/pelatihan-profesional-yang-tidak-profesional/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/pelatihan-profesional-yang-tidak-profesional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 12:46:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Braintalk]]></category>

		<category><![CDATA[Paramadina]]></category>

		<category><![CDATA[UPM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Universitas Paramadina adalah sebuah institusi pendidikan yang (dengan sombongnya) memiliki slogan Entrepreneurship, Leadership, dan Ethics. Ketiga hal tersebut (katanya) diberikan sejak mahasiswa mendapat status sebagai civitas academica Universitas Paramadina.
Langkah pertama dalam mewujudkan ide tersebut adalah melalui Grha Mahardhika Paramadina. Kegiatan ini adalah pengganti kegiatan (ospek/orientasi/seminar/training/dll) yang sebelumnya bernama Pro(ffesional) Training, dan diadakan seminggu sebelum kegiatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="dotted" title="Universitas Paramadina" href="http://paramadina.ac.id" target="_blank">Universitas Paramadina</a> adalah sebuah institusi pendidikan yang (dengan sombongnya) memiliki slogan <em>Entrepreneurship</em>, <em>Leadership</em>, dan <em>Ethics</em>. Ketiga hal tersebut (katanya) diberikan sejak mahasiswa mendapat status sebagai <em>civitas academica</em> Universitas Paramadina.<span id="more-169"></span></p>
<p>Langkah pertama dalam mewujudkan ide tersebut adalah melalui <strong>Grha Mahardhika Paramadina</strong>. Kegiatan ini adalah pengganti kegiatan (ospek/orientasi/seminar/training/dll) yang sebelumnya bernama <strong>Pro</strong>(ffesional) <strong>Training</strong>, dan diadakan seminggu sebelum kegiatan perkuliahan awal tahun ajaran baru. Dulunya, Pro Training diadakan (di-konsep-kan dan dilaksanakan) oleh mahasiswa senior. Dengan kata lain, Pro Training adalah dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa.</p>
<p>Walaupun diadakan oleh mahasiswa (belum mendapatkan gelar sarjana S1, S2, bahkan S3), kegiatan Pro Training hampir mencerminkan sebuah pelatihan yang profesional. Profesional yang dimaksud di sini adalah pelaksanaan kegiatan Pro Training sesuai dengan perencanaan yang dilakukan sebelumnya. Selain itu, profesional dalam hal kualitas panitia (mahasiswa) dalam mengadakan suatu kegiatan. Panitia (mahasiswa) benar-benar menjaga martabat mereka sebagai <em>trainer </em>yang profesional karena memiliki kecerdasan dan ketepatan dalam me-<em>manage </em>setiap unsur acara yang terkandung di dalam kegiatan tersebut.</p>
<p>Seperti kegiatan sejenis di institusi pendidikan lain, Pro Training memiliki tata aturan yang wajib ditaati oleh setiap peserta. Selain itu, terdapat bagian di dalam kepanitiaan yang bertugas untuk menjaga wibawa aturan yang telah dibuat.</p>
<p>Sayangnya, kegiatan ini tidak memiliki konten yang bermanfaat (jujur, <em>sampe </em>sekarang <em>gua kaga dapet</em> ilmu <em>apa2 </em>di <em>protrening</em>!). Peserta hanya dibebani oleh materi-materi yang disampaikan dalam seminar yang membosankan serta tugas-tugas yang tidak jelas tujuannya. Yang berkesan dan cukup menghibur hanyalah selingan acara berupa permainan-permainan kecil.</p>
<p>Ke-tidak-bermanfaat-an acara ini menyebabkan pihak universitas untuk mengambil alih kegiatan Pro Training dan mengganti namanya menjadi Grha Mahardhika Paramadina (GMP). Berlaku efektif tahun ajaran 2008, Universitas Paramadina memegang kuasa atas seluruh unsur kegiatan &#8211;mulai dari perencanaan, kepanitiaan, hingga pelaksanaan&#8211; dan tidak melibatkan peran mahasiswa senior maupun organisasi kemahasiswaan.</p>
<p>Kepanitiaan di dalam GMP diisi oleh jajaran rektorat dan direktorat, serta para dosen/staf universitas. Mahasiswa senior hanya diberi tugas sebagai panitia  dalam hal mentoring (mahasiswa sebagai individu), sebagai undangan untuk pengisi materi (pengurus organisasi kemahasiswaan), dan juga sebagai pengawas jalannya kegiatan (pengurus organisasi kemahasiswaan).</p>
<p>Kegiatan perekrutan mentor dilakukan oleh setiap Program Studi pada semester pendek kemarin. Namun, briefing mengenai tugas mentor baru dilakukan pada hari H-1, yaitu ketika peserta diberikan pengenalan mengenai GMP beserta tata aturannya. Hal ini menyebabkan banyak mentor yang tidak mengetahui peraturan yang berlaku di kegiatan ini, bahkan ada perbedaan aturan di tiap-tiap kelompoknya.</p>
<p>Selain itu, pihak panitia (kampus) tidak mampu mengatur waktu dan pengisi acara. Acara cenderung dilaksanakan tidak sesuai jadwal. Sebagai seorang pengurus organisasi kemahasiswaan, saya mendapatkan jadwal kegiatan GMP. Di jadwal disebutkan bahwa acara dimulai jam 8 pagi, dan selesai pada jam 3 sore. Kenyataannya, acara baru dimulai jam 8 atau 9 pagi, dan selesai di atas jam 4 sore. Penyelenggaraan tiap acara juga cenderung molor dan memakan waktu acara-acara selanjutnya.</p>
<p>Yang lebih parahnya lagi, sebagai universitas yang bernuansa keislaman, pihak panitia (kampus) tidak menyediakan waktu untuk melaksanakan ibadah. Di hari pertama kegiatan, istirahat (untuk makan dan sholat) yang seharusnya dilaksanakan pada jam 12 siang, ternyata baru dimulai pada jam 12.30. Sedangkan di hari kedua, ketika adzan Ashar berkumandang, pihak panitia baru memulai acara &#8220;Game Management dan Closing GMP Hari 2&#8243; yang baru selesai ketika Maghrib. Padahal di jadwal, acara tersebut seharusnya dimulai pada jam 1 sore.</p>
<p>Kemoloran pelaksanaan tiap-tiap acara ini disebabkan karena panitia (kampus) tidak mampu mengatur pengisi acaranya, entah itu pengisi acara yang seenaknya membatalkan jadwal, ataupun pengisi acara yang seenaknya membuat bosan peserta dengan pidato ala SBY yang lama dan menggurui.</p>
<p>Kekurangajaran pihak panitia (kampus) yang menomorduakan mahasiswa senior juga terlihat dalam acara perkenalan HIMA (Himpunan Mahasiswa Jurusan). Di dalam jadwal disebutkan bahwa setiap HIMA memiliki satu jam untuk perkenalan organisasinya, yaitu di H1 atau H2 (tergantung kesepakatan dengan Program Studi masing-masing). Namun, pemberitahuan acara ini dilakukan mendadak. Saya (sebagai ketua HIMA Desain) baru diberitahukan pada jam 4 sore di H-1 (bahkan HIMA TI baru mendapat kabar pada jam 7 atau 8 pagi di H1!), untuk mengisi acara perkenalan HIMA jam 11 siang di hari pertama.</p>
<p>Karena ada pengisi acara yang seenaknya mengubah jadwal presentasinya  &#8211;yang seharusnya di hari kedua jam 8.45 pagi tapi menggantinya menjadi hari pertama jam 11 siang&#8211; acara perkenalan HIMA terpaksa diundur. Pemberitahuan pengunduran inipun baru dilakukan setelah jam 11 siang, padahal tiap-tiap HIMA sudah mengumpulkan pengurusnya dan sudah menyiapkan materi presentasi yang minim karena waktu yang sedikit. Para HIMA akhirnya diberitahukan untuk mengisi di hari kedua jam 8.45 pagi.</p>
<p>Di hari kedua, beberapa HIMA sudah <em>stand-by</em> di kampus sejak jam 8 pagi. Ternyata, GMP hari kedua baru dimulai jam 8.30 dan acara perkenalan jam 10 pagi! Acara perkenalan HIMA terpaksa digabung dengan perkenalan Program Studi, dengan kata lain, yang seharusnya masing-masing memiliki satu jam akhirnya hanya mendapat 30 menit. Acara inipun dimonopoli oleh pihak Program Studi (saya yang sebelumnya dijanjikan waktu presentasi selama 75 menit, akhirnya hanya mendapat 10 menit). Bahkan ada HIMA yang tidak mendapat waktu untuk presentasi.</p>
<p>Ketidakprofesionalan pihak panitia (kampus) juga ditunjukan dalam hal pengawasan tata aturan dan pengawasan tugas tiap-tiap panitia. Peraturan itu antara lain peserta dilarang merokok selama kegiatan GMP berlangsung dan dilarang membawa kendaraan bermotor ke dalam lingkungan kampus. Pelanggaran atas aturan ini dapat berakibat (paling parah) kepada gugurnya peserta dalam GMP tahun ini.</p>
<p>Kenyataannya, banyak peserta yang merokok dan memarkirkan kendaraannya di Gedung C, dan beberapa panitia (kampus) lebih banyak menghabiskan waktunya di kantin (padahal kantin ada di Gedung C!) untuk <em>nongkrong</em>. Hebatnya, banyak panitia (kampus) yang menyaksikan pelanggaran tersebut, namun TIDAK ADA SATUPUN yang terlihat menegur peserta.</p>
<p>Selain itu, MC (<em>eh </em>itu MC apa bukan <em>ye</em>?) tidak mampu mengatur jalannya acara seperti mengontrol <em>mood</em>/suasana acara. Di hari kedua saya melihat MC cenderung bersikap pamer (bahkan norak!) dengan menyetel lagu-lagu yang sedang <em>in </em>di jamannya. Selain itu, MC lebih sering menghabiskan waktu untuk teriak-teriak (<em>bayangin</em>, <em>udah pake mic </em>terus <em>tereak</em>! Buat apa ada <em>mic</em> <em>kalo gitu</em>?) dan tertawa.</p>
<p><strong>Semua kebodohan ini menimbulkan beberapa pertanyaan di benak saya:</strong></p>
<ol>
<li>Kenapa mahasiswa senior tidak dilibatkan di dalam acara GMP ini? Apakah karena mahasiswa belum memiliki gelar di namanya, dan panitia (kampus) sudah S2 bahkan S3, panitia (kampus) lebih pintar daripada mahasiswa? Atau karena ingin menjauhkan mahasiswa senior dengan juniornya?</li>
<li>Apabila pihak kampus ingin menjauhkan pihak senior (yang katanya tidak tahu aturan) dengan juniornya, bukankah ini akan menimbulkan senioritas yang lebih kentara?</li>
<li>Apabila pihak panitia (kampus) saja tidak bisa bersikap profesional, buat apa ada pelatihan profesional dan bagaimana dengan nasib peserta yang diwajibkan untuk menjadi seorang profesional?</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/pelatihan-profesional-yang-tidak-profesional/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Soemadipradja &#038; Taher</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/designs/soemadipradja-taher/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/designs/soemadipradja-taher/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 12:01:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Designs]]></category>

		<category><![CDATA[Promotion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Client
Soemadipradja &#38; Taher
Items

Book Cover
Organizer Cover
Certificate
Banner
Standing Banner
ID Card

Book Cover

Organizer Cover
 
Certificate

Banner

Standing Banner

ID Card

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Client</strong><br />
<a class="dotted" title="Soemadipradja &amp; Taher" href="http://soemath.com" target="_blank">Soemadipradja &amp; Taher</a></p>
<p><strong>Items</strong></p>
<ol>
<li>Book Cover</li>
<li>Organizer Cover</li>
<li>Certificate</li>
<li>Banner</li>
<li>Standing Banner</li>
<li>ID Card</li>
</ol>
<h1>Book Cover</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/soemath-00.jpg" target="_blank"><img title="Book Cover" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/soemath-00.jpg" alt="Book Cover" width="106" height="150" /></a></p>
<h1>Organizer Cover</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/soemath-02.jpg" target="_blank"><img title="Organizer Cover (Side)" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/soemath-02.jpg" alt="Organizer Cover (Side)" width="37" height="150" /></a> <a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/soemath-01.jpg" target="_blank"><img title="Organizer Cover (Front)" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/soemath-01.jpg" alt="Organizer Cover (Front)" width="126" height="150" /></a></p>
<h1>Certificate</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/soemath-06.jpg" target="_blank"><img title="Certificate" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/soemath-06.jpg" alt="Certificate" width="150" height="106" /></a></p>
<h1>Banner</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/soemath-03.jpg" target="_blank"><img title="Banner" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/soemath-03.jpg" alt="Banner" width="150" height="26" /></a></p>
<h1>Standing Banner</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/soemath-04.jpg" target="_blank"><img title="Standing Banner" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/soemath-04.jpg" alt="Standing Banner" width="66" height="150" /></a></p>
<h1>ID Card</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/soemath-05.jpg" target="_blank"><img title="ID Card" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/soemath-05.jpg" alt="ID Card" width="117" height="150" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/designs/soemadipradja-taher/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Universitas Paramadina</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/designs/universitas-paramadina/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/designs/universitas-paramadina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 18:13:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Designs]]></category>

		<category><![CDATA[Publishing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Client
Universitas Paramadina
Items

Book Cover
Book Layouts

Book Cover
 
Book Layouts
Coming Soon
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Client</strong><br />
<a class="dotted" title="Universitas Paramadina" href="http://paramadina.ac.id" target="_blank">Universitas Paramadina</a></p>
<p><strong>Items</strong></p>
<ol>
<li>Book Cover</li>
<li>Book Layouts</li>
</ol>
<h1>Book Cover</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/universitasparamadina-00.jpg" target="_blank"><img title="Book Cover (Front)" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/universitasparamadina-00.jpg" alt="Book Cover (Front)" width="113" height="150" /></a> <a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/universitasparamadina-01.jpg" target="_blank"><img title="Book Cover (Back)" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/universitasparamadina-01.jpg" alt="Book Cover (Back)" width="113" height="150" /></a></p>
<h1>Book Layouts</h1>
<p><strong>Coming Soon</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/designs/universitas-paramadina/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta Gembira</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/designs/jakarta-gembira/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/designs/jakarta-gembira/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 11:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Designs]]></category>

		<category><![CDATA[Promotion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Client
Jakarta Gembira
Items

Backdrops
Invitations

Backdrops
 
Invitations
 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Client</strong><br />
Jakarta Gembira</p>
<p><strong>Items</strong></p>
<ol>
<li>Backdrops</li>
<li>Invitations</li>
</ol>
<h1>Backdrops</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/jakartagembira-00.jpg" target="_blank"><img title="Backdrop 1" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/jakartagembira-00.jpg" alt="Backdrop 1" width="150" height="30" /></a> <a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/jakartagembira-01.jpg" target="_blank"><img title="Backdrop 2" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/jakartagembira-01.jpg" alt="Backdrop 2" width="150" height="37" /></a></p>
<h1>Invitations</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/jakartagembira-02.jpg" target="_blank"><img title="Invitation 1" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/jakartagembira-02.jpg" alt="Invitation 1" width="150" height="106" /></a> <a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/jakartagembira-03.jpg" target="_blank"><img title="Invitation 2" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/jakartagembira-03.jpg" alt="Invitation 2" width="106" height="150" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/designs/jakarta-gembira/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Alien Abduction?</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/alien-abduction/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/alien-abduction/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 06:16:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 9 April 2008 04:00.
Saya bermimpi sedang berada di suatu tempat dan sebuah cahaya terang datang. Tiba-tiba saya sudah berada di luar angkasa dan bepergian secara cepat ke sebuah galaksi lain, sebelum akhirnya saya ‘tertidur’.
Ketika ‘terbangun’, saya berada di sebuah kota kecil dan melihat banyak makhluk serupa dengan manusia. Mereka memiliki bentuk dan wajah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Selasa, 9 April 2008 04:00.</strong></p>
<p>Saya bermimpi sedang berada di suatu tempat dan sebuah cahaya terang datang. Tiba-tiba saya sudah berada di luar angkasa dan bepergian secara cepat ke sebuah galaksi lain, sebelum akhirnya saya ‘tertidur’.</p>
<p>Ketika ‘terbangun’, saya berada di sebuah kota kecil dan melihat banyak makhluk serupa dengan manusia. Mereka memiliki bentuk dan wajah yang hampir sama seperti manusia pada umumnya, perbedaannya hanya di bagian kepala dan tangannya. Kepala mereka lebih besar, mata mereka juga lebih besar, dan mereka memiliki enam jari di masing-masing tangannya.<span id="more-53"></span></p>
<p>Saya diajak berkeliling di kota mereka. Kota mereka terlihat sangat menarik dengan gedung-gedung yang beratap melengkung dan memiliki warna-warna yang lembut. Mereka juga mengajak saya berbicara. Anehnya, mulut mereka tetap tertutup tetapi saya tahu kalau mereka sedang berbicara dengan saya dengan bahasa asing yang, anehnya lagi, bisa saya mengerti. Saya tidak terlalu ingat mengenai ‘pembicaraan’ tersebut, tetapi garis besarnya mereka membandingkan keadaan planet mereka dengan planet bumi kita. Tentang perdamaian yang ada di planet mereka dan kerisauan mereka mengenai pertikaian di bumi. Kalau tidak salah mereka juga mengatakan bahwa mereka bernafas dengan nitrogen.</p>
<p>Akhirnya kami sampai di sebuah perkebunan. Saya sempat memetik ‘hasil panen’ mereka di kebun itu dan berkata bahwa benda itu mirip dengan sayuran yang ada di bumi, tetapi terasa lebih halus dan lembut, lebih ringan, dan memiliki warna yang lebih cerah. Saya juga sempat memegang tanah di kebun itu yang berwarna coklat tetapi terasa seperti butiran pasir di bumi.</p>
<p>Kami kembali berjalan keliling kota sampai akhirnya saya ‘tertidur’ lagi. Saya ‘terbangun’ dan kembali melihat perjalanan menuju sebuah galaksi. Perjalanan pergi-pulang ini terasa aneh karena saya hanya sendiri dan seperti terbang dengan cahaya.</p>
<p>Sekitar jam 4 pagi saya terbangun. Saya merasa mimpi tersebut terasa sangat nyata. Berhubung saya ada kuliah, jadi saya kembali tidur.</p>
<p>Jam 8 pagi saya terbangun lagi dan tidak mengingat apa-apa tetapi hanya bisa merasakan bengkak di dinding mulut saya alias sariawan. Hehe. Saya lalu bersiap-siap ke kampus. Di kampus, saya seperti merasakan kilas balik perjalanan antar galaksi tersebut, dan malam harinya di rumah, saya demam dan mual. Keesokannya saya sering merasa ‘skip’.</p>
<p><strong>Jumat, 11 April 2008 22:00</strong></p>
<p>Saya pergi ke warnet untuk mencari data tugas tipografi. Tugasnya adlaah membuat sebuah majalah dan saya tertarik untuk membuat artikel resensi film “<a title="Alien Autopsy" href="http://www.imdb.com/title/tt0466664/" target="_blank">Alien Autopsy</a>”. Film “Alien Autopsy” yang saya tonton beberapa hari lalu ini menceritakan tentang perjalanan dua orang yang berhasil menipu seluruh dunia dengan melakukan pembuatan ulang film otopsi seorang alien yang mati yang dilakukan Angkatan Darat Amerika Serikat, dan bagaimana pemerintah Amerika Serikat menyimpan rahasia terbesar peradaban manusia.</p>
<p>Saya mengetik kata ‘alien autopsy’ di google dan mulai menyimpan beberapa gambar poster film tersebut dan juga beberapa gambar alien.</p>
<p>Tiba-tiba saya sampai di sebuah situs bernama <a title="UFO Evidence" href="http://ufoevidence.org/" target="_blank">UFO Evidence</a>. Saya menjelajahi situs tersebut, melihat-lihat foto dan video UFO, dan akhirnya sampai ke bagian kasus UFO dan alien.</p>
<p>Mata saya tertuju pada bagian ‘alien abduction’ dan saya mulai membaca artikel-artikelnya di dalam dan di luar situs tersebut. Saya terkejut karena merasakan beberapa hal yang sama seperti di dalam artikel-artikel yang saya baca. Tentang beberapa ras alien yang salah satunya ras nordic, disebutkan bahwa ras tersebut memiliki kemiripan yang sama dengan manusia dengan mata berwarna biru, rambut berwarna putih, dan berbadan atletis. Kalimat itu mengingatkan kembali pada mimpi saya.</p>
<p>Saya juga membaca beberapa indikator seseorang pernah diculik, yaitu :</p>
<ol>
<li> Pernah mengalami waktu yang hilang,</li>
<li> Pernah melihat cahaya berbentuk bola atau kilatan cahaya aneh di rumah Anda atau di lokasi lain.</li>
<li> Mempunyai mimpi tentang UFO, cahaya yang menyorot, atau makhluk alien.</li>
<li> Punya kesadaran kosmis, minat pada ekologi, lingkungan, menjadi vegetarian, atau menjadi sangat sosial.</li>
<li> Merasa punya suatu misi tertentu dalam hidup yang tidak tahu dari mana rasa kompulsif itu berasal.</li>
<li> Mengalami bangun tidur di tengah malam secara mengejutkan.</li>
<li> Mempunyai phobia atau ketakutan yang luar biasa terhadap sesuatu (misalnya: ketinggian, ular, laba-laba, serangga besar, suara, cahaya terang, keamanan diri atau takut bila sendirian)</li>
<li> Punya minat terhadap UFO atau alien, atau banyak membaca tentang subyek-subyek tersebut.</li>
<li> Punya pengalaman secara tiba-tiba pergi atau berjalan ke luar jalan atau ke tempat yang tidak Anda ketahui.</li>
<li> Cenderung akan bertindak kompulsif atau semacam kecanduan sesuatu.</li>
</ol>
<p>Beberapa hal tersebut memberikan sebuah pertanyaan besar bagi saya, apakah saya pernah diculik oleh alien?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/alien-abduction/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Cure For Tomorrow</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/designs/the-cure-for-tomorrow/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/designs/the-cure-for-tomorrow/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 11:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Designs]]></category>

		<category><![CDATA[Identity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Client
The Cure For Tomorrow
Items

Logo

Logo
 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Client</strong><br />
<a class="dotted" href="http://thecurefortomorrow.org" target="_blank">The Cure For Tomorrow</a></p>
<p><strong>Items</strong></p>
<ol>
<li>Logo</li>
</ol>
<h1>Logo</h1>
<p><a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/tcft-00.jpg" target="_blank"><img title="Logo (Horizontal)" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/tcft-00.jpg" alt="Logo (Horizontal)" width="150" height="150" /></a> <a href="http://rifat.najmi.org/images/designs/tcft-01.jpg" target="_blank"><img title="Logo (Vertical)" src="http://rifat.najmi.org/images/designs/t/tcft-01.jpg" alt="Logo (Vertical)" width="150" height="150" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/designs/the-cure-for-tomorrow/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Verbal</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/bahasa-verbal-sebagai-salah-satu-bentuk-komunikasi/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/bahasa-verbal-sebagai-salah-satu-bentuk-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 06:17:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Braintalk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[“SETUJUKAH ANDA BAHWA REFORMASI DI NEGERI KITA SUDAH DI UJUNG TANDUK!!!!!!!!!!”
“SUDAHKAH ANDA MEMBAYAR PAJAK ….. !!!!!! “
Dua tulisan di atas hanyalah beberapa dari banyaknya iklan aneh yang pernah saya lihat. Aneh, menurut saya, karena tulisan tersebut terlihat seperti dibuat oleh orang yang bodoh. Reformasi biasanya merupakan makanan orang-orang intelek, yang berarti mereka adalah orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>SETUJUKAH ANDA BAHWA REFORMASI DI NEGERI KITA SUDAH DI UJUNG TANDUK!!!!!!!!!!</em>”</p>
<p>“<em>SUDAHKAH ANDA MEMBAYAR PAJAK </em>….. !!!!!! “</p>
<p>Dua tulisan di atas hanyalah beberapa dari banyaknya iklan aneh yang pernah saya lihat. Aneh, menurut saya, karena tulisan tersebut terlihat seperti dibuat oleh orang yang bodoh. Reformasi biasanya merupakan makanan orang-orang intelek, yang berarti mereka adalah orang yang lebih berpendidikan daripada saya, sedangkan tulisan kedua adalah tulisan yang dibuat oleh orang-orang yang makan dari pajak yang saya bayar, yang berarti mereka adalah orang-orang terpilih di pemerintahan. Tetapi kedua tulisan itu tidak mencerminkan kualitas mereka sebagai orang yang berpendidikan dan terpilih, hanya karena penggunaan huruf kapital dan tanda baca yang tidak pada tempatnya.<span id="more-51"></span></p>
<p>Saya tidak mengharuskan penggunaan bahasa baku pada iklan tersebut, tetapi penggunaan huruf kapital dan tanda seru yang berlebihan serta tidak pada tempatnya menyebabkan iklan tersebut tidak sampai secara seutuhnya kepada masyarakat karena sifatnya yang bersifat pemaksaan.</p>
<p>Di dalam lingkungan yang membesarkan saya, penggunaan huruf kapital pada sebuah kalimat cenderung mengungkapkan kemarahan dan penggunaan tanda seru semakin menguatkannya. Hal ini sungguh bertolak belakang dari pesan yang diharapkan pembuatnya.</p>
<p>Bahasa verbal, yang dalam hal ini adalah bahasa tulisan, merupakan salah satu unsur dalam desain komunikasi visual. Desain komunikasi visual berarti perancangan suatu bentuk berkomunikasi yang menggunakan bahasa gambar, bahasa verbal, maupun keduanya, sehingga menjadikannya sebagai satu kesatuan bahasa visual. Berbeda dengan desain grafis yang hanya merancang grafis supaya ‘enak dipandang mata’ saja, desain komunikasi visual memiliki pesan yang diharapkan sampai kepada audiens.</p>
<p>Dengan kata lain, bahasa verbal dalam desain komunikasi visual bertujuan untuk menguatkan pesan yang ingin disampaikan.</p>
<p>Di luar konteks desain, bahasa verbal juga memiliki fungsi yang sama dalam seni. Sayangnya, masih banyak teman saya yang menyepelekan peran bahasa tulisan dalam karyanya. Tidak jarang saya menemukan karya berjudul ‘<em>yeah</em>‘, “<em>uhuuy</em>‘, ‘<em>mewek</em>‘, dan sebagainya, yang menurut saya sama sekali tidak mewakili pesan atau ide yang ingin disampaikan bahkan, menurut saya lagi, merendahkan kemampuan mereka dalam berkarya.</p>
<p>Apabila orang terdahulu berkata, “<em>jangan menilai buku dari covernya</em>,” saya berpendapat lain : Nilailah seorang seniman dari judul karyanya dan seorang desainer dari kemampuannya berteman dengan tulisan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/bahasa-verbal-sebagai-salah-satu-bentuk-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Desainer dan Tanggung Jawab Moral</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/desainer-dan-tanggung-jawab-moral/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/desainer-dan-tanggung-jawab-moral/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 07:42:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Braintalk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah perkuliahan, dosen saya pernah menceritakan sebuah kasus yang menurut saya cukup menarik untuk diungkapkan di sini : Di sebuah keluarga di daerah Barat sana ada seorang bayi yang suka menggigit pegangan kereta bayi. Ternyata catnya mengelupas dan membuat sang ibu untuk menuntut perusahaan pembuat kereta bayi tersebut. Ibu itu menang dan perusahaan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah perkuliahan, dosen saya pernah menceritakan sebuah kasus yang menurut saya cukup menarik untuk diungkapkan di sini : Di sebuah keluarga di daerah Barat sana ada seorang bayi yang suka menggigit pegangan kereta bayi. Ternyata catnya mengelupas dan membuat sang ibu untuk menuntut perusahaan pembuat kereta bayi tersebut. Ibu itu menang dan perusahaan itu bangkrut.<span id="more-50"></span></p>
<p>Atau dalam hal lain, tentang perempuan dan produk kecantikan. Iklan dan media yang saya lihat selalu berkata hal yang sama : bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang berambut hitam panjang dan lurus, berkulit putih dan mulus, mengikuti tren alias fashionable, dan tetek bengek lainnya. Opini yang dibentuk inilah yang akhirnya menjadikan perempuan sebagai sapi perahan perusahaan kosmetik.</p>
<p>Kasus lainnya adalah buku manual peralatan elektronik. Seharusnya buku manual bisa menjelaskan tentang kegunaan produk tersebut, cara menggunakannya, dan lainnya. Tapi sebaliknya, sebagian besar orang justru malah berguru terhadap produk itu sendiri, ketimbang membaca ribuan kata yang ada dalam buku manual. Tidak jarang pula buku manual itu tidak menjelaskan secara lengkap tentang produknya. Menurut sayabuku manual seharusnya dibuat semenarik mungkin dengan menggunakan bahasa universal (bahasa universal yang saya maksud di sini adalah bukan selalu bahasa verbal), dan mengedukasi pengguna mengenai produk tersebut. Tapi apa yang terjadi? Banyak pengguna yang tidak bisa mengoperasikan produknya secara optimal dengan satu alasan :<strong> tren</strong>!</p>
<p>Tidak jarang pula saya menonton iklan televisi yang terlalu berlebihan, kalau tidak mau dibilang berbohong, dalam mempromosikan produknya.</p>
<p>Lalu, dimanakah tugas seorang desainer?</p>
<p>Emang sih kata banyak orang mengatakan bahwa kualitas sebuah produk ditentukan dari kemasannya. Tapi apakah itu yang harus kita, sebagai desainer, lakukan : membohongi publik?</p>
<p>Desainer adalah sebuah profesi yang setara dengan, sebagai contoh, dokter; walaupun dari segi perlakuan dan imbalan tidak bisa dibandingkan. Seharusnya desainer bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya.</p>
<p>Terlepas dari hal-hal seperti kurangnya imbalan, dikejar deadline, dan sebagainya, seharusnya kita sebagai desainer harus menjunjung tinggi profesi kita sendiri. Perlakuan yang diberikan oleh klien justru karena desainer tidak bisa menempatkan dirinya sendiri. Karena itu, menurut saya lagi, kita harus merubah sikap kita.</p>
<p>Di sini saya ingin bertanya, sejauh manakah desainer bisa dinilai bersikap profesional? Dalam segi konsep? Finishing? Tepat waktu? Atau menanyakan kevalidan data yang diberikan klien? Mengedukasi klien tentang pentingnya nilai kejujuran? Perannya dalam membentuk opini dan persepsi publik? Atau apa?</p>
<p>Lalu pertanyaan lainnya adalah, batasan-batasan apa yang ada dalam menjalankan profesi sebagai seorang desainer? Tanggung jawab moral apa yang diemban seorang desainer? Atau, perlukah tanggung jawab tersebut?</p>
<p>Pertanyaan terakhir : apa bedanya kita, desainer grafis yang mengenyam pendidikan desain, dengan ‘desainer’ pinggir jalan, apabila kita berlaku sama dengan mereka?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/desainer-dan-tanggung-jawab-moral/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Re-desain Logo Mandiri</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/re-desain-logo-mandiri/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/re-desain-logo-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 07:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Braintalk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, Bank Mandiri meluncurkan logo dan taglinenya yang baru. Perubahan ini sesuai dengan kebijakan Bank Indonesia yang akan mengijinkan bank untuk menjual produk-produk non bank seperti reksadana, bank assurance dan produk-produk non bank lainnya, sehingga tidak terdapat kata ‘Bank’ lagi seperti logo yang lama.
Keterangan yang saya dapat dari website Bank Mandiri menjelaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, Bank Mandiri meluncurkan logo dan taglinenya yang baru. Perubahan ini sesuai dengan kebijakan Bank Indonesia yang akan mengijinkan bank untuk menjual produk-produk non bank seperti reksadana, bank assurance dan produk-produk non bank lainnya, sehingga tidak terdapat kata ‘Bank’ lagi seperti logo yang lama.<span id="more-49"></span></p>
<p>Keterangan yang saya dapat dari website <a href="http://www.bankmandiri.co.id/corporate01/news-detail.asp?id=IAOQ0848728&amp;row=9">Bank Mandiri</a> menjelaskan bahwa warna biru pada logotype merupakan perlambangan dari rasa nyaman, tenang, menyejukkan, dan mencerminkan keseriusan, serta tahan uji, selain juga melambangkan kesetiaan, kepercayaan, kehormatan yang tinggi, dan profesionalisme. Sedangkan warna emas dipadu dengan warna orange menunjukan keagungan, kemuliaan, kemakmuran dan kekayaan. Warna keemasan tersebut juga sebagai penarik perhatian yang menunjukkan sifat aktif, kreatif, meriah serta merupakan warna spiritual.</p>
<p>Saya merasa tidak puas dari proyek bernilai 15 milyar rupiah ini. Ada beberapa hal yang mengganjal hati ketika saya melihat pertama kali melihatnya di sebuah billboard di dekat kampus.</p>
<p>Pertama, tulisan ‘mandiri’ tidak terlihat sebagai satu kata, melainkan terdiri dari dua kata, ‘man’ dan ‘diri’, karena komposisi yang terasa aneh. Tulisan ‘man’ terkesan lebih besar dibandingkan ‘diri’, apalagi penempatan gelombang yang semakin mengucilkan tulisan ‘diri’. Kasarnya, saya melihat tulisan ‘man’ terlebih dahulu, diikuti oleh gelombang emas, dan terakhir adalah tulisan ‘diri’.</p>
<p>Kedua, tampilan iklan yang terkesan kacangan. Bendera Indonesia pada iklan hanya terlihat sebagai tempelan untuk memberitahukan bahwa Mandiri berasal dari Indonesia. Tanpa maksud untuk melecehkan bendera Indonesia, saya berpendapat bahwa iklan tersebut akan terlihat lebih menonjol tanpa keberadaan bendera negara kita.</p>
<p>Yang terakhir, logo ini tidak memiliki corak ke-Indonesia-an, sama seperti logo Pertamina dan logo-logo lainnya. Logo yang baru ini membuat saya merasa Mandiri hanya mengejar keuntungan finansial dibandingkan memajukan perekonomian negara. Mandiri sebagai salah satu wakil Indonesia di dunia perbankan, seharusnya bisa menampilkan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia karena bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki identitas. Tetapi saya tidak melihat hal tersebut pada logo maupun konsep, suatu hal yang sangat disayangkan karena banyak perusahaan negara lain yang berhasil menampilkan identitas negaranya secara visual pada logonya.</p>
<p>Saya hanya bisa berharap semoga logo Mandiri yang baru bisa memberikan perubahan bagi perekonomian bangsa dan membawa pencerahan bagi dunia perancangan grafis Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/re-desain-logo-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>10 Tahun Universitas Paramadina</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/10-tahun-universitas-paramadina/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/10-tahun-universitas-paramadina/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 07:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Braintalk]]></category>

		<category><![CDATA[Desain]]></category>

		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<category><![CDATA[Paramadina]]></category>

		<category><![CDATA[UPM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Menghasilkan lulusan yang memiliki keluasan wawasan dalam perkembangan teknologi dan kepekaan estetik dalam mewujudkan gagasan menjadi rancangan desain, berakhlak mulia serta mandiri dalam bersikap dan berpendapat.
Tujuan Pendidikan Prodi Desain Komunikasi Visual
(dikutip dari buku panduan 2003-2006)
Januari 2008 merupakan bulan ke-41 saya berkuliah di Universitas Paramadina, tetapi saya tidak mendapat keterampilan apa-apa. Sudah lebih dari 40 juta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Menghasilkan lulusan yang memiliki keluasan wawasan dalam perkembangan teknologi dan kepekaan estetik dalam mewujudkan gagasan menjadi rancangan desain, berakhlak mulia serta mandiri dalam bersikap dan berpendapat.</em><br />
<strong>Tujuan Pendidikan Prodi Desain Komunikasi Visual</strong><br />
(dikutip dari buku panduan 2003-2006)<span id="more-48"></span></p>
<p>Januari 2008 merupakan bulan ke-41 saya berkuliah di Universitas Paramadina, tetapi saya tidak mendapat keterampilan apa-apa. Sudah lebih dari 40 juta rupiah dikeluarkan, tetapi saya hanya mendapat tugas membuat poster, flyer, dan keperluan promosi lainnya; padahal semua itu bisa saya dapatkan seharga seperdelapannya di sebuah tempat kursus desain, bahkan secara gratis apabila saya mendalaminya secara otodidak.</p>
<p>—</p>
<p>Desain, atau perancangan, merupakan gabungan dari kreatifitas, keterampilan, dan pengalaman. Unsur yang ketiga bisa didapatkan dari organisasi, sedangkan kedua unsur pertama merupakan tanggung jawab dari institusi pendidikan. Sayangnya, hal tersebut seperti dilupakan oleh Universitas Paramadina.</p>
<p>Kreatifitas adalah awal dari segalanya. Kreatifitas merupakan ruh yang menghidupi kreasi manusia. Namun terjadi proses pengkotak-kotakan kreatifitas di Universitas Paramadina, dimana mahasiswa tidak bisa menggunakan akalnya untuk berkreasi dan mengembangkan kreatifitasnya karena kurikulum yang bersifat monoton dan tidak eksploratif, bahkan terjadi tumpang-tindih di antaranya.</p>
<p>Apa yang didapatkan dari mata kuliah Desain Komunikasi Visual I-V? Apakah logo merupakan satu-satunya bidang yang bisa dikerjakan oleh desainer, atau, dengan kata lain, desainer hanya bertugas untuk membuat logo? Atau Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Paramadina hanya bertujuan untuk mencetak pembuat logo?</p>
<p>Logo, seperti kebanyakan ide yang lain, bisa berwujud nyata setelah dibantu oleh keterampilan. Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Paramadina menawarkan mata kuliah Pengantar Komputer Grafis, Komputer Grafis I, dan Komputer Grafis II untuk melatih keterampilan mahasiswa dalam bidang teknologi.</p>
<p>Teknologi yang diajarkan memanglah merupakan teknologi terbaik di bidang perancangan grafis karena memungkinkan sang perancang untuk mengeksplorasi unsur rupa secara digital yang sesuai dengan konteks desain. Tetapi kurikulum yang diberikan dalam wujud pemberian tugas-tugas tidak memberikan kesempatan bagi mahasiswa dalam hal eksplorasi, sehingga menyebabkan ketakutan di diri mahasiswa untuk menguasai perangkat lunak tertentu, menimbulkan rasa kurang percaya diri karena ketertinggalan dibandingkan mahasiswa kampus lainnya, hingga menyebabkan mahasiswa seperti dikuasai oleh teknologi dan bukan sebaliknya.</p>
<p>—</p>
<p>Tahun 2008 merupakan tahun ke-sepuluh bagi Universitas Paramadina dalam mencatatkan namanya pada lembaran sejarah pendidikan di Indonesia : Sejarah yang kelam bagi nasib lulusan Prodi Desain Komunikasi Visual?</p>
<p><strong>Selamat ulang tahun yang ke-10 untuk Universitas Paramadina.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/10-tahun-universitas-paramadina/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Semalam Yang Menegangkan</title>
		<link>http://rifat.najmi.org/blog/semalam-yang-menegangkan/</link>
		<comments>http://rifat.najmi.org/blog/semalam-yang-menegangkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 07:44:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifat Najmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rifatnajmi/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam di Rumah Sakit Fatmawati di akhir tahun 2005..
Gw dapet giliran nemenin nyokap di rumah sakit. Nyokap waktu itu sakit berat setelah kecapean ngurusin renovasi rumah. Gw ngebawa beberapa barang buat nemenin gw di sana : bantal, selimut, baju ganti, sikat gigi, hp, sama kamera. Yap, bokap gw akhirnya ngelengserin kameranya ke gw, jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu malam di Rumah Sakit Fatmawati di akhir tahun 2005..<span id="more-47"></span></p>
<p>Gw dapet giliran nemenin nyokap di rumah sakit. Nyokap waktu itu sakit berat setelah kecapean ngurusin renovasi rumah. Gw ngebawa beberapa barang buat nemenin gw di sana : bantal, selimut, baju ganti, sikat gigi, hp, sama kamera. Yap, bokap gw akhirnya ngelengserin kameranya ke gw, jadi gw lagi sering-seringnya ngotak-ngatik kamera.</p>
<p>Hari pertama gw habiskan dengan ngabisin makanan yang dibawa temen-temen nyokap pas ngejenguk nyokap. Malamnya gw ngobrol-ngobrol sama kakak gw. Tapi di hari kedua kakak gw pulang karena besoknya hari kerja. Dan di malam kedualah kejadian aneh ini gw rasakan.</p>
<p>Sekitar jam 9 malam, gw keluar kamar untuk mengambil foto lorong di rumah sakit. Tapi perasaan gw ga enak. Akhirnya gw kembali lagi ke kamar. Di kamar gw berusaha ngumpulin keberanian, “Lorongnya keren nih buat dimasukin deviantart!” Haha. Tapi apa daya, ketakutan gw melebihi segalanya.</p>
<p>Karena sayang dengan kamera yang udah berat-berat gw bawa, akhirnya gw memutuskan mengambil foto di taman di depan kamar. Setelah berpikir panjang lebar terhadap nasib gw nanti, gw jalan ke luar kamar. Berbagai sudut gw perhatikan untuk mendapatkan objek terbaik dan gw menemukan objek yang gw suka. Gw mulai mengangkat kamera gw ke depan mata untuk mengatur fokus, tapi …….</p>
<p>KOK ITEM SEMUA?</p>
<p>Gw kaget setengah mati.</p>
<p>Gw mencoba untuk berani dengan mengotak-ngatik kamera dan gw lebih kaget lagi setelah mengetahui tutup lensanya belom gw copot! Hahaha.</p>
<p>Gw mulai ngeker objek yang sama, ngatur fokus, trus mencet shutternya. Tapi….</p>
<p>KOK GA NYALA YA?</p>
<p>Gw merasa kameranya rusak atau belom dinyalain. Setelah meriksa kameranya, gw mencoba untuk ngeker yang ketiga kalinya. Tiba tiba….</p>
<p>JEPRET!</p>
<p>Nah lo!</p>
<p>Gw langsung lari ke kamar, naro kamera di meja, trus masuk ke dalem selimut.</p>
<p>Perasaan takut ngebuat gw ga bisa tidur, perasaan takut juga ngebuat gw penasaran. Rasa penasaran ternyata berhasil mengalahkan rasa takut gw. Dengan segala keberanian yang gw punya akhirnya gw menggunakan logika gw untuk memeriksa kamera. Ternyata dengan bodohnya gw memencet timer pas ngotak-ngatik kamera tadi.</p>
<p>Belom puas menertawakan diri sendiri, tiba-tiba perhatian gw teralih ke pintu depan.</p>
<p>GW MELIHAT BAYANGAN HITAM DI PINTU DEPAN</p>
<p>Dengan was-was gw menunggu bayangan itu pergi, tapi bayangan itu seperti betah ngegangguin gw dan memaksa gw untuk melindungi diri di bawah selimut.</p>
<p>Beberapa saat kemudian gw keluar dari selimut dan gw bersukur ga lagi melihat bayangan hitam tersebut. Tapi…</p>
<p>Beberapa saat kemudian gw mendengar suara…</p>
<p>HIHIHIHIHI</p>
<p>Gw kembali lagi ke tempat perlindungan sambil istigfar.</p>
<p>Gw membuka selimut dari kepala gw setelah suara itu menghilang. Tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak ke gw karena kamar yang tadinya gelap, sekarang sudah terang benderang dengan sendirinya!</p>
<p>Bosan merasa takut, gw memberanikan diri untuk menengok ke kanan dan kiri. Gw melihat beberapa pasang kaki mengenakan sepatu putih. Ketika gw menengok ke atas gw melihat beberapa orang suster dan…..</p>
<p>Seorang suster tertawa dengan suara yang sama seperti yang gw dengar tadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rifat.najmi.org/blog/semalam-yang-menegangkan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
