Dalam sebuah perkuliahan, dosen saya pernah menceritakan sebuah kasus yang menurut saya cukup menarik untuk diungkapkan di sini : Di sebuah keluarga di daerah Barat sana ada seorang bayi yang suka menggigit pegangan kereta bayi. Ternyata catnya mengelupas dan membuat sang ibu untuk menuntut perusahaan pembuat kereta bayi tersebut. Ibu itu menang dan perusahaan itu bangkrut.

Atau dalam hal lain, tentang perempuan dan produk kecantikan. Iklan dan media yang saya lihat selalu berkata hal yang sama : bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang berambut hitam panjang dan lurus, berkulit putih dan mulus, mengikuti tren alias fashionable, dan tetek bengek lainnya. Opini yang dibentuk inilah yang akhirnya menjadikan perempuan sebagai sapi perahan perusahaan kosmetik.

Kasus lainnya adalah buku manual peralatan elektronik. Seharusnya buku manual bisa menjelaskan tentang kegunaan produk tersebut, cara menggunakannya, dan lainnya. Tapi sebaliknya, sebagian besar orang justru malah berguru terhadap produk itu sendiri, ketimbang membaca ribuan kata yang ada dalam buku manual. Tidak jarang pula buku manual itu tidak menjelaskan secara lengkap tentang produknya. Menurut sayabuku manual seharusnya dibuat semenarik mungkin dengan menggunakan bahasa universal (bahasa universal yang saya maksud di sini adalah bukan selalu bahasa verbal), dan mengedukasi pengguna mengenai produk tersebut. Tapi apa yang terjadi? Banyak pengguna yang tidak bisa mengoperasikan produknya secara optimal dengan satu alasan : tren!

Tidak jarang pula saya menonton iklan televisi yang terlalu berlebihan, kalau tidak mau dibilang berbohong, dalam mempromosikan produknya.

Lalu, dimanakah tugas seorang desainer?

Emang sih kata banyak orang mengatakan bahwa kualitas sebuah produk ditentukan dari kemasannya. Tapi apakah itu yang harus kita, sebagai desainer, lakukan : membohongi publik?

Desainer adalah sebuah profesi yang setara dengan, sebagai contoh, dokter; walaupun dari segi perlakuan dan imbalan tidak bisa dibandingkan. Seharusnya desainer bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya.

Terlepas dari hal-hal seperti kurangnya imbalan, dikejar deadline, dan sebagainya, seharusnya kita sebagai desainer harus menjunjung tinggi profesi kita sendiri. Perlakuan yang diberikan oleh klien justru karena desainer tidak bisa menempatkan dirinya sendiri. Karena itu, menurut saya lagi, kita harus merubah sikap kita.

Di sini saya ingin bertanya, sejauh manakah desainer bisa dinilai bersikap profesional? Dalam segi konsep? Finishing? Tepat waktu? Atau menanyakan kevalidan data yang diberikan klien? Mengedukasi klien tentang pentingnya nilai kejujuran? Perannya dalam membentuk opini dan persepsi publik? Atau apa?

Lalu pertanyaan lainnya adalah, batasan-batasan apa yang ada dalam menjalankan profesi sebagai seorang desainer? Tanggung jawab moral apa yang diemban seorang desainer? Atau, perlukah tanggung jawab tersebut?

Pertanyaan terakhir : apa bedanya kita, desainer grafis yang mengenyam pendidikan desain, dengan ‘desainer’ pinggir jalan, apabila kita berlaku sama dengan mereka?



XHTML: You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Indonesian Youth Conference