Akhir-akhir ini kecenderungan orang-orang muda untuk berekspresi dalam seni rupa semakin variatif. Berbagai medium penyampaian kehendak untuk merealisasikannya secara visual dicobakan beberapa kalangan, tidak terkecuali dari kelompok yang sedang berpameran ini… Mereka mencoba berekspresi dengan medium yang sangat sederhana. Tehnik tersebut memang telah berusia lama dan sangat ampuh untuk dikerjakan secara bersahaja yang sering didengar telinga dengan sebutan woodcuts.

Yaitu sebuah lembaran kayu yang pipih dimana di atasnya ditoreh dan dicukil menghasilkan parit dan terkelupas, sehingga meninggalkan permukaanya yang tinggi rendah menurut bentuk yang diinginkan pembuatnya. Di atas permukaan kayu tersebut disapukan tinta hitam. Permukaan yang tinggi menerima tinta sedangkan yang dalam luput dari tinta. Tehnik ini menjadikan permukaan lembar kayu menjadi negatif dan positif, yakni yang terang dan gelap. Di atas lembaran kayu ini kemudian diletakkan lembar demi lembar kertas yang dipress sedemikian rupa sehingga tinta yang terdapat di kayu menempel di kertas putih di atasnya dan menyisakan yang bolong tanpa tinta. Sesungguhnya asal mula percetakan yang kita ketahui sekarang berasal dari ditemukannya tehnik semacam woodcuts ini.

Tidak kurang seniman-seniman dari berbagai tempat seperti di Cina yang pertama menemukan tehnik ini, hingga menyebar luas sampai ke Eropa seperti Durer, Rembrand, hingga Van Gogh dll memanfaatkan berekspresi di tehnik ini. Secara kelompok sangat menonjol pada Die Brucke (Jerman 1905) berlanjut ke aliran Ekspresionisme di sekitar tahun-tahun berikutnya 1910. Kemudian di Indonesia sudah menjadi keharusan untuk mencobanya di beberapa pendidikan seni rupa.

Kelompok yang menamakan diri mereka BROWNFIELDS mengetengahkan tidak kurang dari 50 karya woodcuts hasil pekerjaan mereka selama ini. Tema yang diambil pada pameran mereka itu berjudul Graphic Revival yang menekankan munculnya kembali kekuatan grafis di kota ini yang selama bertahun-tahun diperjuangkan kalangan penggrafis dimana mereka adalah bagian dari para pendukung upaya tersebut. Beragam citra berada di atas karya mereka mulai dari kehidupan sehari-hari sampai dengan pengolahan bidang spasial yang mengasikkan. Sementara yang lain bermain dengan hewan, manusia, serta imajinasi yang fantastis, liar, terkadang ritmis dan movement.

Kesegaran mereka berekspresi kelihatan menonjol dan masih belum banyak bersentuhan dengan hal-hal lain di luar berkreasi. Ada baiknya kita mendukung semangat mereka ini, siapa tahu ada di antara mereka ini kelak yang mengharumkan nama negeri ini di kemudian hari dalam bidang seni grafis.

Merwan Yusuf
Kurator Galeri Nasional
(dikutip dari katalog pameran)

Info

May 31st – June 12th 2005
BERANDA SENI INDIGO
Jl. Ampera Raya 1, Jakarta Selatan

Featured Artists

Abdul Rahim, Adityo Cahyo S, Andhyka Cakrapermana, Andias Rakhman, Andreas SG, Argo Dwi P, Asri Dwi S, Audi Djufri, Dian Aprianti, Dwini Capritasari, Fikri Hisbullah, Franz Liberty, Hamdani Syafei, Khrisna Jaya, Lia, Mariyo, Minati Hapsari, Modina Rimolfa, Priscilla Astrini, Rany Septiani, Rambo Anzhar, Rifat Najmi, Riva Meutia, Rizky Iskandar, Satyo Adi Nugroho, Sandika Rakhim, Teguh Kusuma, Wahyudi Prasetyo

Submissions

Taman Melihat Dengan Tangan



XHTML: You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Indonesian Youth Conference