SETUJUKAH ANDA BAHWA REFORMASI DI NEGERI KITA SUDAH DI UJUNG TANDUK!!!!!!!!!!

SUDAHKAH ANDA MEMBAYAR PAJAK ….. !!!!!! “

Dua tulisan di atas hanyalah beberapa dari banyaknya iklan aneh yang pernah saya lihat. Aneh, menurut saya, karena tulisan tersebut terlihat seperti dibuat oleh orang yang bodoh. Reformasi biasanya merupakan makanan orang-orang intelek, yang berarti mereka adalah orang yang lebih berpendidikan daripada saya, sedangkan tulisan kedua adalah tulisan yang dibuat oleh orang-orang yang makan dari pajak yang saya bayar, yang berarti mereka adalah orang-orang terpilih di pemerintahan. Tetapi kedua tulisan itu tidak mencerminkan kualitas mereka sebagai orang yang berpendidikan dan terpilih, hanya karena penggunaan huruf kapital dan tanda baca yang tidak pada tempatnya.

Saya tidak mengharuskan penggunaan bahasa baku pada iklan tersebut, tetapi penggunaan huruf kapital dan tanda seru yang berlebihan serta tidak pada tempatnya menyebabkan iklan tersebut tidak sampai secara seutuhnya kepada masyarakat karena sifatnya yang bersifat pemaksaan.

Di dalam lingkungan yang membesarkan saya, penggunaan huruf kapital pada sebuah kalimat cenderung mengungkapkan kemarahan dan penggunaan tanda seru semakin menguatkannya. Hal ini sungguh bertolak belakang dari pesan yang diharapkan pembuatnya.

Bahasa verbal, yang dalam hal ini adalah bahasa tulisan, merupakan salah satu unsur dalam desain komunikasi visual. Desain komunikasi visual berarti perancangan suatu bentuk berkomunikasi yang menggunakan bahasa gambar, bahasa verbal, maupun keduanya, sehingga menjadikannya sebagai satu kesatuan bahasa visual. Berbeda dengan desain grafis yang hanya merancang grafis supaya ‘enak dipandang mata’ saja, desain komunikasi visual memiliki pesan yang diharapkan sampai kepada audiens.

Dengan kata lain, bahasa verbal dalam desain komunikasi visual bertujuan untuk menguatkan pesan yang ingin disampaikan.

Di luar konteks desain, bahasa verbal juga memiliki fungsi yang sama dalam seni. Sayangnya, masih banyak teman saya yang menyepelekan peran bahasa tulisan dalam karyanya. Tidak jarang saya menemukan karya berjudul ‘yeah‘, “uhuuy‘, ‘mewek‘, dan sebagainya, yang menurut saya sama sekali tidak mewakili pesan atau ide yang ingin disampaikan bahkan, menurut saya lagi, merendahkan kemampuan mereka dalam berkarya.

Apabila orang terdahulu berkata, “jangan menilai buku dari covernya,” saya berpendapat lain : Nilailah seorang seniman dari judul karyanya dan seorang desainer dari kemampuannya berteman dengan tulisan.



XHTML: You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Indonesian Youth Conference